
Apa yang kita ketahui secara umum yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan manajemen kinerja korporasi, dalam hal ini dapat kita ringkaskan sebagai berikut :
Pertama, pimpinan puncak menerima rumusan secara baik dan mengkomunikasikan strategi bisnis dengan satu fokus khusus ;
Kedua, ada tiga esensi strategic fokus yaitu biaya, pelayanan, dan produk.
Ketiga, pimpinan puncak menerima kedalam 10 s/d 30 % sebagai kesatuan yang mencakup katagori kinerja misalan kepuasan pegawai, kepuasan pelanggan, produktivitas, dan inovasi, hasil-hasil keuangan.
Keempat, pimpinan puncak memahami kesenjangan antara organisasi, teknologi dan arsektur proses, hal tersebut setiap unsur akan terkait kinerja perusahaan.
Kelima, pimpinan puncak penugasan semua aktivitas dari atas kebawah dalam organisasi.
Keenam, pimpinan puncak mengkontrol semua proses, termasuk penugasan kepada individu dan atau kelompok, mereka menelurusi soal yang berkaitan dengan biaya, siklus waktu, penyesuaian standard, kuantitas kualitas ukuran target.
Ketujuh, pimpinan puncak mengembangkan gambaran kinerja individual yaitu mencalkup semua aktivitas dengan rencana bisnis atau strategi ; ukuran kinerja pegawai versus balanced scorecard ; kerangka kerja secara umum sehubungan dengan adanya kedudukan pekerjaan yang sama ; meningkatkan dialog yang terkait dengan konstrubusi individu terhadap bisnis yang terkait kedalam pemanfaatan waktu penilaian kinerja.
Kedelapan, pimpinan puncak terkait laporan pertanggungan jawab untuk membangun dan memakai strategi yang difokuskan, scorecards, proses ukuran dan profil kinerja individual.
Bertitik tolak dari gambaran umum yang dikemukakan diatas, maka dibawah ini akan diungkapkan secara sepintas yang berkaitan dengan pelaksanaan dari manajemen kinerja sbb. :
Pertama, strategic fokus yang terkait dari keseluruhanpikiran mengenai mengukur kinerja :Strategik fokus adalah fokus terutama yang dapat diungkapkan disini secara sederhana adalah yang berkaitan dengan 1) cara mendorong perusahaan memasarkan produk dan jasa ; 2) menentukan bagaimana mengalokasi sumber daya dan mengariskan segala sesuatu dari ukuran-ukuran kinerja kepada inisiatip korporate yang lebih luas.
Ada tiga stategic fokus yaitu 1) fokus biaya adalah berkaitan dengan pemimpin biaya terendah atas produk standard untuk pelanggannya, oleh karena itu fokus menjadi daya dorong oleh keunggulan operasional ; 2) fokus produk tidak menekankan biaya yang terendah, tapi produk baru yang terus berkembang ; 3) fokus pelanggan menekankan kepada pelayanan kepada pelanggan kedalam klas dunia.
Strategik fokus berkaitan dengan seluruh pengukuran kinerja yang akan mencakup 1) mencoba seluruh pemikiran terhadap menusia ; 2) menekankan kepada manajer berkaitan dengan hasil keuangan ; 3) menekan terhadap biaya taklangsung ; 4) mendorong kemampuan untuk bersaing ; 5) memahami atas kesalahan paham antara kepentingan pelanggan dengan pembat analisis.
Dengan memperhatikan pemikiran diatas, maka umumnyasemua perusahaan memiliki 1) teknologi arsetektur ; 2) organisasional arseitektur ; 3) roses arsetektur.
Kedua, menciptakan dan melaksanakan suatu strategi :Untuk mendukung strategi bisnis, maka diperlukan suatu rumusan strategi kedalam proses dari atas ke bawah. Dimana proses dimulai dengan menciptakan rencana strategi secara menyeluruh, sehingga diperlukan tim untuk mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan 1) penuntun analisis situasi yang sedang berjalan ; 2) menentikan rencana orizontal ; 3) menentukan lingkungan yang berpengaruh ; 4) identifikasi faktor kunci sukses ; 5) analisis kesenjangan ; 6) rumuskan visi ; 7) kembangkan strategi bisnis ; ciptakan balanced scorecard ; 9) identifikasi taktik dan inisiatip ; 10) melaksanakan strategi.
Ketiga, struktur organisasi :Untuk menukung strategi bisnis, diperlukan kejelasan komponen dalam struktur organisasi yang berkaitan dengan 1) komunikasi ; 2) core kompetensi ; 3) intelegen kompetisi ; 4) keahlian teknis ; 5) kapabilitas organisas ; 6)kontrol administratip ; 7) sistem pengukuran kinera termasuk scorecard korporate ; manajemen kinerja ; 9) sistem dan kebijakan sumber daya manusia ;10) struktur organisasi ; 11) sistem bisnis ; 12) rencana bisnis tahunan ; 13) sistem keuangan ; 14) budaya perusahaan.
Keempat, arsitektur teknologi :Secara teori atas pengelolaan penugasan akan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan 1) teknologi informasi ; 2) teleponi ; 3) teknologi operasi dan pabrikasi ; 4) aplikasi ; 5) teknologi desk-top ; 6) sistem manajemen pengetahuan.
Dengan memperhatikan hal-hal diatas, maka manajemen sistem informasi dibangun berkaitan biaya dengan pertimbangan alasan yang mencakup 1) manfaat biaya dari sistem baru pada dasarnya tidak mungkin terjadi begitu saja dengan kaiatan ketelitian, tetapi harus dilakukan ; 2) tidak ada kepuasan yang dapat dicapai sejalan dengan pengukuran kinerja ; 3) tingkat kesalahan masih begitu tinggi, adakalanya bisa mncapai 70 % atau lebih ; 4) pertumbuhannya menunjukkan menjadi kancau, tidak terkontrol, tidak siap ; 5) para pemimpin MIS sering mendorong sistem baru melalui perusahaan dengan pikiran yang sederhana.
Agar supaya berkontribusi pada semua lingkungan, para pemimpin harus mengembangkan dan melaksanakan IT dengan perubahan pikiran kedalam 1) mencakup strategik , korporasi dan sasaran bsinis untuk semua IT ; 2) diperlukan analisis resiko dari implementasi IT untuk implementasi korporasi baru ; 3) diperlukan analisis manfaat biaya untuk setiap pemimpin yang meminta perubahan IT ; 4) mengembangkan standard, secara cepat modifikasi laporan ; 5) peran semua pimpinan bertanggung jawab untuk pemakaian perubahan model untuk setiap IT yang baru.
Kelima, arsitektur proses :Arsitketur proses adalah suatu rantai nilai dari organisasi dimana secara kolektip proses dapat dipergunakan terhadap 1) pemahaman bagaimana organisasi dioperasikan dan apa aktivitas yang menambah nilai ; 2) identifikasi biaya dari aktivitas kunci ; 3) membandingkan organisasi terhadap indentifikasi diferensiasi sumber daya.
Komponen utama dari arsitektur proses menyangkut rantai nilai yang terdiri dari 1) aktivitas utama yang secara langsung terlibat dalam penciptaan dan penyerahan dari produk jasa utama ; 2) dukungan aktivitas yatu kedalam dukungan dari aktivitas utama ; 3) langkah-langkah dalam pengembangan rantai nilai adalah a) ciptakan peta hubungan ; b) kaji ulang aktivitas utama dan dukungan ; c) ciptakan suatu rantai nilai pendahuluan, berjalan, terhadap pelanggan dan dukungan kepada pemasok ; 4) siapkan diagram layout, seharusnya a) kaji ulang dukumentasi yang ada ; b) dukumen layout yang ada ; c) secara strategik prioritas masalah layout ; d) identifikasi peluang untuk perbaikan.
Keenam, scorcard ( atau balanced) korporasi :Scorecard korporasi alat mengukur dari pencapaian dari strategi bisnis, mengkomunikasikan strategi secara langsung, serta yang berkaitan dengan membangun ukuran-ukuran kunci kinerja dan target-target kinerja pada semua tingkat organisasi.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka perlu dipahami dengan hal-hal yang berkaitan mengenai 1) mengapa scorecard menjadi sesuatu kebutuhan (histories vs persfektif ; fokus manejerial yang besar atas ROA ; menekankan permodalan intensif ; didorong oleh kesuksesan keuangan atau mungkin kegagalan ; melihat neraca tidak comprehensive ; mengarah pertumbuhan)
Oleh karena dperlukan pemahaman persfektif scorecard yang menyangkut 1) kepuasan pelanggan ; 2) kepuasan pegawai ; 3) kinerja keuangan ; 4) kinerja operasional ; 5) kualitas produk / jasa ; 6) kinerja para pemasok ; 7) keamanan / lingkungan / tanggung jawab umum.
Ketujuh, proses perencanaan bisnis :Mengapa banyak pemimpin senior sesungguhnya memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan proses perencanaan bisnis yaitu 1) gambaran rencana bisnis secara formal dengan kreatifitas ; 2) mereka tidak menginginkan secara rinci karena akan ada perubahan bahkan mungkin saja setiap minggu ; 3) terlalu banyak pemimpin berpikir taktis karena berpikir mingguan bukan untuk satu kwartal.
Sumber-sumber informasi rencana bisnis melalui kerangka pikir yaitu scorecard analisis kesenjangan kedalam 1) meneliti lingkungan 2) analisis umpan balik pelanggan, menghasilkan analisis kesenjangan organisasi , menghasilkan rencana bisnis berdasarkan aktivitas.
Dalam tahun 1980, kita mengenal yang disebut dengan ABC (activity-based costing) yang selanjutnya berkembang yang disebut dengan ABM (activity-based management) dimana model dilola menjadi lbih baik karena 1) banyak pemimpin memanfaatkan scorecard analisis kesenjangan sebagai pemikiran yang lbih luas dan melihat lebih dalam bisnis ; 2) selanjutnya pemimpin mengembangkan atas dasar ABC dalam mengelola sebelum mereka mendapatkan hasil yang diinginkan ; 3) para pemimpin yang sama memakai persfektif kedalam rencana bisnis seperti yang termuat kedalam scorecard dengan cara ini untuk menghindari kesalah pahaman atas dukumen berbeda.
Kedelapan, proses mengukur kinerja :Proses adalah serangkaian aktivitas untuk tranformasikan input menjadi output produk dan jasa. Oleh karena itu terdapat bentuk proses mengukur kinerja yang disebut 1) end of process ; 2) functional boundaries ; 3) major sub-products ; 4) variriances.
Apa yang anda ukur, dalam hal ini dapat diukur kedalam lima katagori yaitu 1) cycle time, 2) costs, 3) quantity, 4) quality, 5) customer user standards. Sejalan dengan pikiran tersebut dibuat apa yang disebut “standard operating procedures (SOP)”. Dalam hal ini ada yang disebut dengan konvenional SOP yang berisikan 1) deskripsi , 2) rincian prosedur, 3) issu-issu keamanan, 4) kebutuhan pemeriksaan, 5) issu-issu cek ulang, 6) informasi tambahan.
Terdapat tiga cara mengembangkan proses mengukur kinerja, dengan pendekatan yang disebut dengan 1) pemetaan proses ; 2) membuat peta aktivitas ; 3) analisis tugas. Dengan pendekatan tersebut perlu dipikirkan hal yang berhubungan dengan metoda data koleksi yang mana yang terbaik dalam mengukur kinerja. Yang terbaik dengan mengkombinasikan pendekatan tersebut.
Delepan, manajemen dan mengukur kinerja individu dan pekerjaan :Pengelolaan atas pengukuran individu dan pekerjaan merupakan satu sistem, kalaupun manajemen sumber daya manusia memilikinya haruslah dalam pemikiran sebagai sub-sistem dari sistem yang ada. Sejalan dengan itu perlu dipecahkan masalah – masalah yang berkaitan dengan penilaian kinerja.
Oleh karena itu, harus dipahami mengenai ukuran kinerja individual yang aslinya yang mana karena diperoleh dari beragam sumber, sehingga dalam merumuskanya haruslah memiliki keterkaitan satu sama lainnya yang disebut 1) corporate scorecard and strategies focus , 2) business plan, 3) process lingking individual to any process that person might touch.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka proses pengumulan informasi terdapat tiga cara yang disebut dengan 1) pemetaan proses, 2) membuat peta fungsional, 3) analisis tugas.(kerjasama, kedalam pengetahuan bisnis, menekankan dengan pelanggan, mengidentifikasi kecenderungan data elanggan, meningkatkan pemkaian tekologi, menjaga perjanjian dengan planggan, dukumentasi on line, terbukaan ide baru, kerja organisasi, dsb)
Dengan mmperhatikan hal-hal diatas maka dirumuskan mengenai yang terkait dengan kelompok ang difokuskan, menempatkannya dalan kesatuan, frofil kinrja, merumuskan profil istilah kinerja, mengariskan kedalam lingkaran pengelolaan kinerja, merumuskan secara rinci dari pengelolaan kinerja, mmbuat pedoman untuk perbaikan penilaian dari kinerja.