Minggu, 18 Januari 2009

Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Industri Batik


I. LATAR BELAKANG

Kemampuan SDM untuk berperan sebagai champion dalam menghadapi lingkungan yang berubah dengan sangat cepat dan penuh ketidakpastian, pada akhirnya akan menjadi faktor penentu apakah suatu organisasi mampu memposisikan diri untuk cenderung lead to change atau justru driven by change.
Faktor SDM perlu diposisikan agar senantiasa mampu mengkontribusi secara optimal pada rejuvenation process sehingga organisasi akan tetap aktual menjadi bagian dari dinamika lingkungannya. Sebagai konsekuensi strategis adalah, meningkatnya kebutuhan untuk melakukan pembenahan yang terencana dan berkesinambungan atas kompetensi organisasi dan kompetensi SDMnya.
Langkah strategis yang dapat ditempuh untuk melakukan pembenahan tersebut adalah dengan mengembangkan program manajemen SDM secara komprehensif, sehingga organisasi memiliki acuan pasti untuk menjawab ketersediaan dan kesiapan SDM dalam jangka pendek dan jangka panjang dalam menjawab dinamika lingkungannya.
Dalam dunia industri Batik pun, Sumber Daya Manusia berkualitas memiliki peran penting dalam memajukan industri Batik agar lebih luas lagi dari segi pemasarannya, ditunjang dengan skill yang tinggi dan kemampuan untuk menyerap pasar Internasional yang baik, maka Batik akan mampu bersaing dengan produk-produk tekstil lainnya.
Industri Batik saat ini dapat dikategorikan sebagai Industri Kreatif, sehingga penekanan terhadap kemampuan Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor yang paling menentukan dalam persaingan di pasar domestik maupun internasional.
Bila melihat kondisi saat ini, Industri Batik di kota Pekalongan memang mengalami pasang surut, dimana beberapa tahun ke belakang, Industri Batik di Kota Pekalongan pernah mengalami kemunduran.
Namun pada saat sekarang ini, Industri Batik Pekalongan sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan munculnya sentra-sentra Industri batik yang sebelumnya wilayah tersebut bukan sebagai sentra batik.

II. PEMBAHASAN
1. Sejarah Batik Kota Pekalongan
Di kota Pekalongan, industri Batik merupakan salah satu industri andalan yang menghasilkan devisa bagi kota Pekalongan. Batik Pekalongan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan batik-batik lainnya.

Meskipun tidak ada catatan resmi mulai kapan Batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan sudah ada di Pekalongan pada tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag , motif batik itu ada yang dibuat pada tahun 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju. Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1820-1825 di kerajaan Mataram yang disebut perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya perang ini mendesak keluarga keraton dan para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat .
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu daerah Pekalongan kota, Buaran, Pekajangan dan Wonopringgo.

Perjumpaan masyarakat pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Arab, China, India, Belanda, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai pada dinamika motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu, beberapa jenis motif hasil pengaruh dari berbagai bangsa tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas Batik Pekalongan.

Motif itu yaitu Batik Jlamprang diilhami dari negeri India dan Arab. Kemudian Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi oleh peranakan China. Batik Pagi Sore dipengaruhi oleh budaya Belanda, serta Batik Hokokai yang dipengaruhi oleh budaya Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut Batik memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi Batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya Batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi ke dalam dua wilayah administratif : Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan Batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan warga Pekalongan sehari-hari dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk Batik.

Karena terkenal dengan produk Batik, maka Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan ini datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Kota Pekalongan. Selama periode panjang itulah aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan Sumber Daya Manusia yang berada di sekitar wilayah tersebut dalam menerima paham serta pemikiran-pemikiran baru.


2. Data Kependudukan Kota Pekalongan :

a. Penduduk

Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan sebagaimana tertuang dalam GBHN. Pembangunan yang dilaksanakan adalah dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu Pemerintah telah melaksanakan berbagai usaha dalam rangka memecahkan berbagai masalah kependudukan. Usaha-usaha yang mengarah pada pemerataan penyebaran penduduk telah dilaksanakan

Pemerintah dengan cara transmigrasi. Sedangkan usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk telah dilakukan Pemerintah dengan Program KB (Keluarga Berencana) yang dimulai awal tahun 70-an.

Jumlah penduduk Kota Pekalongan pada tahun 2004 adalah 264.932 jiwa , yang terbagi atas 100.983 atau sekitar 49,44 % penduduk laki-laki dan 133.949 atau sekitar 50,56 % penduduk perempuan. Sedangkan banyaknya rumah tangga adalah 66.092.

Kepadatan penduduk di Kota Pekalongan cenderung meningkat seiring dengan kenaikan jumlah penduduk. Rasio ketergantungan (Dependency Ratio) Kota Pekalongan cukup kecil, disebabkan karena jumlah penduduk usia 15-64 tahun jauh lebih besar dari pada penduduk usia 0 – 14 tahun dan 65 tahun keatas.

b. Ketenagakerjaan

Penduduk Usia Kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Mereka terdiri dari “Angkatan Kerja” dan “Bukan Angkatan Kerja”. Proporsi penduduk yang tergolong “Angkatan Kerja” dikenal sebagai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK menurut umur mengikuti pola huruf U terbalik. Angka ini rendah pada umur-umur muda (karena sekolah). Kemudian naik sejalan dengan kenaikan umur sampai mencapai puncaknya pada umur 40 – 44 tahun dan selanjutnya turun lagi secara perlahan pada umur- umur berikutnya (antara lain Karena pensiun dan mencapai usia tua sekali).

Di Kota Pekalongan pada tahun 2004 kebanyakan dari pekerja bekerja di sektor industri yang sebagian besar merupakan industri batik. Dalam tabel di bawah ditampilkan data lengkap mengenai banyaknya pekerja menurut jenis kelamin dan lapangan pekerjaan dan juga banyaknya pencari kerja baru yang mendaftarkan diri di Kantor Tenaga Kerja Kota Pekalongan tahun 2004.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar