Selasa, 29 September 2009

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali

Ingat pepatah ini "Memanfaatkan kesempatan yang ada adalah lebih baik dari menunggu datangnya kesempatan". Kita tentu sering mendengar tentang tokoh-tokoh terkemuka yang mempunyai beraneka ragam hobi. Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah : darimana tokoh-tokoh tersebut mendapatkan wkatu dan energi, sehingga di sela-sela pekerjaannya yang sibuk, mereka masih saja dapat menyempatkan perhatian pada aktifitas lainnya. Jawabannya singkt saja, energi untuk kegiatan satunya didapatkan dengan melakukan kegiatan yang lain. Atau dengan kata lain, mereka bisa mengerjakan secara paralel/bersamaan beberapa kegiatan. Secara relatif, kita hanya butuh sedikit istirahat, dan sebenarnya yang lebih banyak kita butuhkan adalah "selingan" atau mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Bukan kehidupan sibuk yang melelahkan, atau kehidupan yang monoton. Kalau kita sudah bekerja keras sehari penuh, maka setelah lewat jam enam, kita harus berdiam diri untuk istirahat secara total, dan yang kita butuhkan adalah melakukan aktifitas/kegiatan lain dan berada di lingkungan lain yang suasananya berbeda.

Agar kita mendapatkan kepuasan batin, kita bisa melakukan variasi kegiatan dalam kehidupan ini. Tersedia begitu banyak aktifitas selingan yang bisa kita lakukan dan disesuaikan dengan minat dan potensi kita, seperti bermusik, teater, fotografi, melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menulis, melukis, menyanyi, dan lain-lain

Betapa banyak kesempatan yang telah dibuang begitu saja oleh kita yang merasa terlalu letih untuk melakukan pekerjaan tambahan di waktu luangnya, terkadang kita terlena oleh istirahat panjang tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita sendiri, padahal sebenarnya kita bisa melakukan pekerjaan lainnya di saat bersamaan.

Banyak kerja sama bisnis dan hubungan penting sering berawal dari teman kampus, lapangan olah raga, paguyuban organisasi masyarakat dan beragam jenis perkumpulan lainnya seperti facebook, blogger.

Melaksanakan hobi selepas jam kerja adalah sama pentingnya dengan melakukan aktifitas pekerjaan Anda sehari-hari. Siapa pun yang semata-mata hidup untuk pekerjaan sehari-hari, sungguh dia telah diperbudak oleh pekerjaannya. Sebab, banyak kasus dalam hidup ini, hal-hal terpenting justru lahir dari hobi.

Jadi cepatlah bertindak selagi kesempatan yang Anda ciptakan itu ada di depan mata. Masalah hasil kita serahkan kepada Allah SWT. Kita dituntut hanya untuk berproses/ikhtiar secara optimal dengan segenap potensi yang sudah diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Wallaahu a'alam bishowab.

Senin, 28 September 2009

Karakter dan Nilai Bersama yang Tepat

Saat ini di berbagai perusahaan baik di Indonesia maupun di luar negeri, masalah yang sering dijumpai perusahaan adalah "Perusahaan tidak bisa mendapatkan karyawan yang bagus. Jika berhasil mendapatkannya, perusahaan tidak dapat mempertahankan karyawan bagus tersebut".

Apabila hal ini merupakan masalah yang dihadapai saat ini, maka perusahaan harus bersiap-siap menghadapi keadaan yang semakin parah - semakin sulit menemukan, memotivasi dan mempertahankan orang-orang bertalenta. Memang, apabila mempertahankan karyawan bertalenta menjadi amat sukar, perusahaan harus menganggap manajemen talenta sebagai sebuah isue yang strategis. Apabila tidak, jangan berharap perusahaan masih bisa bertahan di bisnis kita saat ini dalam 5 atau 10 tahun mendatang.

Apabila kita kalkulasi dan telaah atas turnover karyawan di beberapa perusahaan yang pernah penulis bekerja di tempat tersebut, rata-rata untuk mengganti frontliner yang terampil pada level senior yang bergaji misalnya Rp. 7.000.0000,- maka perhitungan kerugiannnya adalah sebagai berikut :

Biaya langsung Rp. 20.000.000,-
Hilangnya produktivitas diri sendiri 1/3 dari total pendapatan/thn= Rp. 26.666.666,-
Hilangnya produktivitas - orang lain 1/3 dari total pendapatan/thn = Rp. 26.666.666,-
100% (total biaya) Rp. 73.333.332,- atau lebih dari 60% dari total gaji setahun.

Dengan melihat kalkulasi di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mengganti karyawan membutuhkan biaya besar. Namun kalau kita mempekerjakan karyawan dengan biaya murah, bahayanya jauh lebih besar lagi.

Sudah sangat lama, orang-orang yang berada di departemen SDM telah menjadi bagian yang memastikan bahwa peraturan dan standar karyawan dilaksanakan dengan benar. Mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengatur dan memberlakukan standar dua kali lebih tinggi dari standar normal. Sebagai contoh, bila ada karyawan yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota ataupun ke luar negeri, bagian SDM-lah yang mengatur kelas penerbangan yang akan digunakan atau hotel untuk menginap. Dalam praktek, karyawan sering bingung menerima perintah yang saling bertentangan, karena perusahaan tidak memiliki standar yang jelas. Bagian SDM harus mempunyai posisi strategis (pada level tertinggi) jika ingin berhasil untuk mendukung pencapaian upaya menjadi "perusahaan idaman pencari kerja", dan menciptakan tempat kerja yang bisa dibanggakan oleh para karyawannya.

Untuk memperoleh hasil terbaik dalam pengelolaan dan pengembangan SDM di perusahaan, kita memerlukan rasa saling percaya dalam berbagai hubungan bisnis yang bisa dimulai dari level eksekutif yang paling senior dalam perusahaan.

Ubahlah cara pandang dan berfikir kita. Lihatlah karyawan kita sebagai kumpulan orang-orang yang berbakat dan perlu dioptimalkan potensinya semaksimal mungkin, bukan sebagai orang bodoh. Sayangnya kita sering terkondisikan (karena dipaksa atau kebiasaan) untuk berfikir dengan satu cara tertentu. Tetapi siapa yang tahu bahwa cara tersebut masih valid, masih sesuai atau masih efektif???

Karena itu untuk bertindak pada level integritas dan produktifitas yang tinggi, kita membutuhkan kepercayaan, karena dengan dasar tersebut sudah pasti, rasa percaya akan membantu kita membangun budaya perusahaan yang lebih menyenangkan dan produktif.

Mempertahankan Karyawan Terbaik

Banyak perusahaan yang kehilangan karyawan/ti cemerlang karena kondisi kerja yang kurang fleksibel sehingga mereka lebih memilih meninggalkan pekerjaannya dan mencari tantangan baru yang lebih memberikan kesempatan melakukan pengembangan kompetensi dirinya.

Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa cara bisa dilakukan oleh perusahaan yakni :

1. Membuat lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan saling berbagi pengetahuan dan memiliki pengaruh nyata pada bisnis/target perusahaan dan pekerjaan yang dilaksanakan.

2. Menawarkan kesempatan kepada karyawan untuk pengembangan diri dan memberikan apresiasi yang didasari rasa hormat, karena karyawan sebenarnya menyenangi tantangan dan mereka juga bangga pada tempat kerjanya.

3. Mempertahankan suatu lingkungan kerja yang "sehat" yang didasarkan atas keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi serta perhatian terhadap kualitas tempat kerja, termasuk di dalamnya adalah kesehatan, keamanan, dan pemahaman tentang bagaimana cara memotivasi karyawan.

4. Perusahaan harus menciptakan nilai-nilai yang sama antara karyawan dan manajemen. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan karyawan, mengetahui faktor-faktor yang dapat memotivasi, menstimulasi, dan menantang bagi karyawan.

5. Perusahaan harus mampu menumbuhkan dan mengembangkan karyawan melalui basis pengetahuan, dimana proses belajar, diskusi, dan pengetahuan merupakan hal yang fundamental bagi kesuksesan jangka panjang. Intinya perusahaan dapat memfasilitasi proses pembelajaran secara sistematis, misalnya kasus-kasus di lapangan yang terjadi, diungkap dalam sebuah diskusi lintas divisi yang melibatkan para manajer, pelaksana dari semua divisi yang terkait.

Ditempat kerja yang baik, setiap orang berkontribusi terhadap kesuksesan perusahaan. Tidak ada perbedaan informasi antara manajer dan spesialis. Setiap orang memahami detail proses kerja yang mereka lakukan setiap hari. Para karyawan mengetahui standar kerja mereka yang berkaitan dengan pemirsa/penonton, masyarakat dan lingkungan, harus dipenuhi, dan jika memungkinkan harus lebih dari sekedar memenuhi standar yang ada.

Minggu, 27 September 2009

Pentingnya SDM pada Industri Televisi

Industri Televisi saat ini berkembang dengan pesat, dimulai pasca reformasi jumlah stasiun televisi menjadi 11 stasiun televisi bersiaran nasional dan 30 televisi lokal. Program-program yang dikemas pun beraneka ragam sesuai dengan segmentasi pemirsa yang menjadi target sasaran masing-masing stasiun televisi.

Yang tidak kalah pentingnya adalah peluang yang ada di sektor industri ini, dimana potensi penyerapan tenaga kerja akan semakin meningkat. Seperti diketahui bidang-bidang yang dapat dimasuki di industri televisi adalah : Management dan Administrasi, Production, Creative, Teknik, News dan Keuangan.

Tentunya bagi para pencari kerja hal ini merupakan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi problem yang dihadapi oleh para pencari kerja, khususnya bagi mereka yang benar-benar "fresh graduate" adalah terbatasnya kemampuan teknis yang harus dimiliki pada saat memasuki dunia kerja.

Ada beberapa cara yang bisa dikembangkan untuk menjembatani problem dunia pendidikan dengan dunia kerja, diantaranya adalah dengan membuat suatu model pengembangan dan pemberdayaan yang terintegrasi antara kebutuhan industri penyiaran dengan dunia kerja.

Salah satu yang bisa ditawarkan adalah dengan memberikan pelatihan yang bersifat teknis operasional oleh masing-masing Televisi yang memiliki karakteristik berbeda. Pelatihan ini bisa dijajagi dengan menggandeng para penyelenggaran training, dimana trainernya adalah para praktisi dari industri penyiaran.

Sebagai praktisi, penulis juga pernah melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk mengetahui sejauh mana kebutuhan para lulusan perguruan tinggi terhadap industri penyiaran. Berdasarkan angket yang disebarkan, terdapat beberapa kebutuhan yang bersifat praktis yang diinginkan oleh para peserta workshop pada saat kunjungan di beberapa universitas, misalnya kebutuhan akan pelatihan Jurnalisme Televisi Tingkat Dasar, Kamera, dan Editing.

Bila melihat hasil di atas, sangat terlihat bahwa pada umumnya para lulusan masih membutuhkan materi-materi yang bersifat mendasar. Padahal di abad pengetahuan ini, kemajuan multi media sudah di depan mata. Ini artinya ada kesenjangan yang perlu kita penuhi agar para lulusan tersebut mampu beradaptasi secara cepat di dunia kerja.

Rabu, 09 September 2009

Bekerja dengan Ikhlas sama dengan bekerja dengan Cerdas

Ketika saya menulis judul di atas, saya terinspirasi beberapa tulisan yang membahas tentang pentingnya bekerja dengan cerdas. Kemudian timbul pertanyaan buat diri sendiri, apakah berarti orang yang bekerja dengan Ikhlas bisa sama dengan orang yang bekerja dengan Cerdas. Secara sepintas nampaknya ada perbedaan yang substansi, misalnya saja ketika kita bekerja dengan mengharapkan imbalan tertentu dengan pengharapan diberikan sesuatu secara materi.

Ikhlas mengandung makna bahwa kita bekerja dan beraktifitas dengan harapan balasan dari Allah Swt yang memiliki dan menguasai seluruh alam jagat raya ini.

Ketika seseorang meniatkan segala urusan hanya mengharapkan imbalan dan ridha Allah Swt, artinya kita telah benar dalam menentukan keinginan – keinginan kita. Itu artinya sandaran kita diletakkan pada sandaran yang sangat tepat. Berbeda dengan apa yang menjadi sandaran tertentu yang bukan selain Allah Swt, bisa suatu saat menjadi hilang begitu saja.

Pembaca, di saat kita bekerja dengan ikhlas, itu sama artinya kita bekerja dengan cerdas. Mengapa demikian ? Mari kita bahas dari segi manfaatnya :

1. Proses yang kita lakukan dalam bekerja sangat melelahkan dan terkadang tidak mendapatkan hasil yang kita inginkan. Bayangkan seandainya ketika kita tidak menyandarkan segala hasil tersebut kepada Allah Swt. Apa yang terjadi ? Upaya kita hanya akan sampai pada aspek materi saja atau kelelahan, sehingga hasil yang diharapkan hanya sebatas wujud materi saja, padahal dalam kehidupan dunia ini, adakalanya kita mendapatkan hasil yang berwujud non materi. Bila kita hanya sebatas wujud materi, itu sama saja balasan kita hanya sebatas dunia. Padahal jelas-jelas bahwa kehidupan manusia itu tidak hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga akhirat. Jadi artinya di saat kita menyandarkan aktifitas – aktifitas secara ikhlas, maka proses yang telah kita lakukan akan dibalas berlipat ganda yang berdampak pada kehidupan akhirat kelak.

2. Bekerja dengan ikhlas, akan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun di sekeliling kita. Misalnya saja kalau kita memberikan sedekah yang disertai keikhlasan, maka Allah SWT akan membalas berlipat ganda dan wujudnya tidak hanya aspek materi saja, akan tetapi juga berimbas kepada pahala di akhirat yang merupakan tujuan akhir hidup kita sebagai muslim.

Dengan demikian, ketika seseorang bekerja dengan ikhlas, maka sebenarnya dia telah bekerja dengan cerdas, dimana pilihan yang dilakukan adalah mendapatkan imbalan dan ridho dari yang Maha Memiliki, Maha Menguasai dan Maha Memberi. Wallahu’alam bishowab