Saat ini di berbagai perusahaan baik di Indonesia maupun di luar negeri, masalah yang sering dijumpai perusahaan adalah "Perusahaan tidak bisa mendapatkan karyawan yang bagus. Jika berhasil mendapatkannya, perusahaan tidak dapat mempertahankan karyawan bagus tersebut".
Apabila hal ini merupakan masalah yang dihadapai saat ini, maka perusahaan harus bersiap-siap menghadapi keadaan yang semakin parah - semakin sulit menemukan, memotivasi dan mempertahankan orang-orang bertalenta. Memang, apabila mempertahankan karyawan bertalenta menjadi amat sukar, perusahaan harus menganggap manajemen talenta sebagai sebuah isue yang strategis. Apabila tidak, jangan berharap perusahaan masih bisa bertahan di bisnis kita saat ini dalam 5 atau 10 tahun mendatang.
Apabila kita kalkulasi dan telaah atas turnover karyawan di beberapa perusahaan yang pernah penulis bekerja di tempat tersebut, rata-rata untuk mengganti frontliner yang terampil pada level senior yang bergaji misalnya Rp. 7.000.0000,- maka perhitungan kerugiannnya adalah sebagai berikut :
Biaya langsung Rp. 20.000.000,-
Hilangnya produktivitas diri sendiri 1/3 dari total pendapatan/thn= Rp. 26.666.666,-
Hilangnya produktivitas - orang lain 1/3 dari total pendapatan/thn = Rp. 26.666.666,-
100% (total biaya) Rp. 73.333.332,- atau lebih dari 60% dari total gaji setahun.
Dengan melihat kalkulasi di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mengganti karyawan membutuhkan biaya besar. Namun kalau kita mempekerjakan karyawan dengan biaya murah, bahayanya jauh lebih besar lagi.
Sudah sangat lama, orang-orang yang berada di departemen SDM telah menjadi bagian yang memastikan bahwa peraturan dan standar karyawan dilaksanakan dengan benar. Mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengatur dan memberlakukan standar dua kali lebih tinggi dari standar normal. Sebagai contoh, bila ada karyawan yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota ataupun ke luar negeri, bagian SDM-lah yang mengatur kelas penerbangan yang akan digunakan atau hotel untuk menginap. Dalam praktek, karyawan sering bingung menerima perintah yang saling bertentangan, karena perusahaan tidak memiliki standar yang jelas. Bagian SDM harus mempunyai posisi strategis (pada level tertinggi) jika ingin berhasil untuk mendukung pencapaian upaya menjadi "perusahaan idaman pencari kerja", dan menciptakan tempat kerja yang bisa dibanggakan oleh para karyawannya.
Untuk memperoleh hasil terbaik dalam pengelolaan dan pengembangan SDM di perusahaan, kita memerlukan rasa saling percaya dalam berbagai hubungan bisnis yang bisa dimulai dari level eksekutif yang paling senior dalam perusahaan.
Ubahlah cara pandang dan berfikir kita. Lihatlah karyawan kita sebagai kumpulan orang-orang yang berbakat dan perlu dioptimalkan potensinya semaksimal mungkin, bukan sebagai orang bodoh. Sayangnya kita sering terkondisikan (karena dipaksa atau kebiasaan) untuk berfikir dengan satu cara tertentu. Tetapi siapa yang tahu bahwa cara tersebut masih valid, masih sesuai atau masih efektif???
Karena itu untuk bertindak pada level integritas dan produktifitas yang tinggi, kita membutuhkan kepercayaan, karena dengan dasar tersebut sudah pasti, rasa percaya akan membantu kita membangun budaya perusahaan yang lebih menyenangkan dan produktif.
Apabila hal ini merupakan masalah yang dihadapai saat ini, maka perusahaan harus bersiap-siap menghadapi keadaan yang semakin parah - semakin sulit menemukan, memotivasi dan mempertahankan orang-orang bertalenta. Memang, apabila mempertahankan karyawan bertalenta menjadi amat sukar, perusahaan harus menganggap manajemen talenta sebagai sebuah isue yang strategis. Apabila tidak, jangan berharap perusahaan masih bisa bertahan di bisnis kita saat ini dalam 5 atau 10 tahun mendatang.
Apabila kita kalkulasi dan telaah atas turnover karyawan di beberapa perusahaan yang pernah penulis bekerja di tempat tersebut, rata-rata untuk mengganti frontliner yang terampil pada level senior yang bergaji misalnya Rp. 7.000.0000,- maka perhitungan kerugiannnya adalah sebagai berikut :
Biaya langsung Rp. 20.000.000,-
Hilangnya produktivitas diri sendiri 1/3 dari total pendapatan/thn= Rp. 26.666.666,-
Hilangnya produktivitas - orang lain 1/3 dari total pendapatan/thn = Rp. 26.666.666,-
100% (total biaya) Rp. 73.333.332,- atau lebih dari 60% dari total gaji setahun.
Dengan melihat kalkulasi di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mengganti karyawan membutuhkan biaya besar. Namun kalau kita mempekerjakan karyawan dengan biaya murah, bahayanya jauh lebih besar lagi.
Sudah sangat lama, orang-orang yang berada di departemen SDM telah menjadi bagian yang memastikan bahwa peraturan dan standar karyawan dilaksanakan dengan benar. Mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengatur dan memberlakukan standar dua kali lebih tinggi dari standar normal. Sebagai contoh, bila ada karyawan yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota ataupun ke luar negeri, bagian SDM-lah yang mengatur kelas penerbangan yang akan digunakan atau hotel untuk menginap. Dalam praktek, karyawan sering bingung menerima perintah yang saling bertentangan, karena perusahaan tidak memiliki standar yang jelas. Bagian SDM harus mempunyai posisi strategis (pada level tertinggi) jika ingin berhasil untuk mendukung pencapaian upaya menjadi "perusahaan idaman pencari kerja", dan menciptakan tempat kerja yang bisa dibanggakan oleh para karyawannya.
Untuk memperoleh hasil terbaik dalam pengelolaan dan pengembangan SDM di perusahaan, kita memerlukan rasa saling percaya dalam berbagai hubungan bisnis yang bisa dimulai dari level eksekutif yang paling senior dalam perusahaan.
Ubahlah cara pandang dan berfikir kita. Lihatlah karyawan kita sebagai kumpulan orang-orang yang berbakat dan perlu dioptimalkan potensinya semaksimal mungkin, bukan sebagai orang bodoh. Sayangnya kita sering terkondisikan (karena dipaksa atau kebiasaan) untuk berfikir dengan satu cara tertentu. Tetapi siapa yang tahu bahwa cara tersebut masih valid, masih sesuai atau masih efektif???
Karena itu untuk bertindak pada level integritas dan produktifitas yang tinggi, kita membutuhkan kepercayaan, karena dengan dasar tersebut sudah pasti, rasa percaya akan membantu kita membangun budaya perusahaan yang lebih menyenangkan dan produktif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar