Kamis, 26 Agustus 2010

Memotivasi Karyawan

Motivasi merupakan anugerah manusia yang paling penting dan diperlukan untuk mencapai dan mempertahankan tingkatan tinggi produktifitas. Ketika karyawan kehilangan elemen motivasi, maka ketika itu pula akan kehilangan dorongan untuk melakukan apa pun selain yang benar-benar perlu dilakukan.

Ketika kita dihadapkan oleh suatu kondisi dimana terdapat karyawan yang mengalami penurunan gairah kerja, padahal kita tahu bahwa orang tersebut memiliki riwayat kerja yang baik. Maka sudah seharusnya kita mendignosa, penyebab dari timbulnya penurunan motivasi pada diri si karyawan itu.

Penulis ambil contoh, Valeria adalah seorang karyawati yang telah bekerja di perusahaan consumer good yang sudah memiliki masa kerja yang cukup lama dibanding karyawan lain. Dia bergabung dengan perusahaan sebagai seorang Account Executive di bagian penjualan.

Meskipun ia tidak memiliki latar belakang penjualan, ia memiliki kemampuan alamiah untuk menjual. Selama bertahun-tahun, secara konsisten memenuhi atau melebihi kuota penjualan untuk wilayahnya. Dia menyukai wilayah penjualannya dan mengenal para pelanggannya dengan baik. Meskipun dia telah memiliki beberapa kesempatan untuk dipindahkan ke wilayah yang lebih besar, dia selalu menolak tawaran tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam karir dia, secara konsisten dalam kurun waktu 5 bulan, dia gagal mencapai kuota penjualan.

Sebagai atasan mungkin berasumsi bahwa dia sedang menghadapi masalah pribadi termporer yang mengganggu produktivitasnya atau penjualan memang sedang menurun di wilayah penjualannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa memotivasi Valeria ??? Termasuk jenis kepribadian apakah dia ?

Ternyata setelah ditelaah, valeria termasuk jenis kepribadian tipe pemain tangguh, buktinya adalah selama kurun waktu yang cukup panjang, dia selalu mencapai target. Ciri-cirinya adalah jelas : dia seorang pekerja keras, suka tantangan dan menjadi bosan dengan penugasan rutin.

Untuk memotivasi jenis kepribadian tipe 1 ini, seorang atasan bisa membuat target baru dengan kesepakatan bersama agar dia merasa tidak bosan. Bisa saja tujuan / target yang ditetapkan sederhana seperti mengembalikan kuota penjualan pada tanggal yang ditetapkan atau tujuan yang menantang seperti melebihi kuota sampai 50%. Tujuan spesifik yang dipilih tersebut tidak penting sepanjang Atasan dan Valeria percaya bahwa tujuan itu bersifat realistis.

Sebagai atasan, pastikan Anda dan Valeria benar-benar sepakat mengenai bagaimana mengidentifikasi ketika tujuan tersebut tercapai. Sebagai contoh, bila Valeria berhasil mencapai tujuannya, penghargaan karyawan di depan rekan sejawatnya mungkin sangat tepat dalam situasi tekanan rekan sejawat yang menimpanya.

Salam,

Feisal Assegaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar